Konservasi Rusa Timor Wonopotro
Konservasi Rusa Timor Wonopotro: Angin segar dalam pengembangan fauna terancam
Fuel Terminal Boyolali melakukan kegiatan perlindungan keanekaragaman hayati salah satunya adalah konservasi fauna terancam yakni Rusa Timor. Perlindungan keanekaragaman hayati berupa Rusa Timor dilakukan di Bukit Wonopotro Desa Blumbang Kecamatan Klego Kabupaten Boyolali. Konservasi Rusa Timor ini menggandeng kelompok peduli lingkungan yakni Karang taruna Ikatan Muda Mudi Tanah Glagah Ombo (IMTAG). Kelompok ini kemudian memanfaatkan konservasi Rusa Timor sebagai salah satu daya Tarik wisata di Dusun Glagah Ombo Desa Blumbang Kecamatan Klego, Kabupaten Boyolali.
Rusa Timor merupakan satwa yang dilindungi di Indonesia berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor 106 tahun 2018. Berdasarkan kategori daftar merah International Union for Conservation of Nature (IUCN Red list), sejak tahun 2008 rusa Timor termasuk kategori rentan (vulnerable). Sebelumnya pada tahun 1996, rusa Timor berstatus risiko rendah (lower risk). Perubahan status ini disebabkan total populasi asli rusa Timor di daerah penyebaran aslinya diperkirakan kurang dari 10.000 individu dewasa. Perkiraan penurunan sekurangnya 10% selama tiga generasi sebagai akibat hilangnya habitat dan perburuan (IUCN, 2015).
Rusa Timor dapat hidup di dataran rendah hingga tinggi yakni 2.600meter diatas permukaan laut. Satwa ini memiliki habitat alami pada tipe vegetasi seperti savana dan vegetasi hutan. Rusa Timor merupakan salah satu satwa tertua penghuni daratan Timor dan menyebar ke sejumlah pulau terdekat yakni Sumba, Rote Ndao, Flores, Alor, Maluku, Sulawesi bahkan Papua khususnya Merauke. Rusa Timor dewasa dapat memiliki berat badan 60-100kg. Tinggi bahu rusa betina dewasa mencapai 100 cm, sedangkan pada jantan mencapai 110 cm. Panjang badan dengan kepala kira-kira 120 – 130 cm, panjang ekor 10 – 30 cm. Jantan dewasa memiliki tanduk atau ranggah yang bercabang tiga dengan ujung-ujungnya yang runcing, kasar dan beralur memanjang dari pangkal hingga ke ujung ranggah. Panjang ranggah rata-rata 80 – 90 cm, tapi ada juga yang mencapai 111,5 cm. (Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan DIY, 2020)
Konservasi Rusa Timor yang dilakukan oleh Fuel Terminal Boyolali merupakan konservasi Ex situ, yakni konservasi atau pelesatraian satwa dilindungi yang dilaksanakan diluar wilayah/habitat asli satwa Rusa Timor. Konservasi Rusa Timor yang dilakukan oleh Fuel Terminal Boyolali ini menggandeng kelompok peduli lingkungan yang berada di Desa Blumbang Kecamatan Klego, Kabupaten Boyolali. Wilayah ini dipilih karena adanya potensi dan permasalahan perburuan liar. Sebelumnya warga telah memiliki satu rusa sehingga perusahaan memberikan bantuan berupa 1 ekor rusa untuk menjadi pasangan rusa timor. Sehingga pada awalnya hanya terdapat 2 ekor rusa, namun dapat berkembang hingga berjumlah 12 ekor pasang pada tahun 2021.
Pengelola Konservasi Rusa Timor di Bukit Wonopotro merupakan kelompok yang tidak hanya merawat Rusa, namun juga menjadi salah satu kelompok yang menjalankan wisata konservasi. Wisata Konservasi yang dimaksut ialah dengan menjadikan Konservasi Rusa Timor di Bukit Wonopotro ini menjadi daya Tarik wisata dengan menghadirkan wahana wisata lainnya seperti kuliner, permainan anak, playground, serta camping ground.
Kerjasama berbagai pihak dalam mendukung keberhasilan konservasi Rusa
Demi menjaga Kesehatan Rusa Timor Bukit Wonopotro dengan baik, maka pengelola juga melakukan perawatan rutin. Perawatan rutin dilakukan oleh pengelola konservasi dengan cara memberi makan dan vitamin dengan teratur, pembersihan kandang dan pemeriksaan Kesehatan Rusa oleh Dokter Hewan secara berkala. Pemeriksaan Kesehatan oleh dokter hewan dilakukan dengan menghadirkan dokter hewan dari Taman Satwa Taru Jurug di Solo dan Mantri Kesehatan setempat. Pemeriksaan Kesehatan rusa meliputi pemeriksaan kesehataan fisik serta pengecekan laboratorium untuk mengetahui apakah rusa mengidap penyakit atau memiliki cacing didalam tubuhnya. Pemeriksaan tahun 2021 yang dilakukan, menunjukkan hasil yang baik yakni tidak terdapat cacing dalam tubuh rusa timor di Bukit Wonopotro.
Selain melibatkan dokter hewan, kelompok dan Fuel Terminal Boyolali juga bekerjasama dengan BKSDA KSW I Surakarta untuk memantau perkembangan rusa timor di Bukit Wonopotro, Desa Blumbang. BKSDA didatangkan untuk memantau dan meberikan arahan bagi kelompok untuk dapat membuat laporan perkembangan Rusa Timor dengan baik. Laporan yang dibuat nantinya dapat digunakan untuk proses tagging atau penandaan Rusa Timor, sehingga pengelola dapat memanfaatkan Rusa tidak hanya menjadi daya Tarik wisata untuk dilihat saja, namun juga nantinya dapat diperjualbelikan bahkan bisa dijadikan sate rusa.
Menurut P.19 tahun 2015 tentang penangkaran, penandaan pada hasil penangkaran merupakan pemberian tanda yang bersifat permanen pada bagian tumbuhan maupun satwa dengan menggunakan teknik tagging/banding, cap (marking), transponder, pemotongan bagian tubuh, tattoo dan label yang mempunyai kode berupa nomor, huruf atau gabungan nomor dan huruf.
Tujuan dari penandaan spesimen di penangkaran adalah untuk membedakan antara induk dengan induk lainnya, antara induk dengan anakan dan antara anakan dengan anakan lainnya serta antara spesimen hasil penangkaran dengan spesimen dari alam.
Ear tag yang digunakan memiliki 3 warna berbeda yaitu biru, kuning dan jingga untuk membedakan F1, F2 dan F3. Sementara itu untuk membedakan jenis kelamin, dibedakan dari pemasangan di telinga kanan menunjukkan jantan, sedangkan ear tag di telingan kiri menunjukkan betina (Nurlaili, 2016). Seperti yang kita ketahui Bersama, apabila konservasi telah memiliki individu F3, pengelola berhak untuk dapat melakukan penjualan hingga penyembelihan Rusa.
Hasil monitoring fauna dan flora tim ahli keanekaragaman hayati dari Universitas Diponegoro pada tahun 2021, menunjukkan bahwa kondisi fauna memiliki nilai indeks keanekaragaman hayati (IKH) Shannon-Wiener sebesar H=3,523 dimana mengalami kenaikan dibandingkan tahun 2020. Hal ini disebabkan oleh peningkatan jumlah spesies yang cukup signifikan di lokasi Bukit Wonopotro. Menurut Magurran (1998), nilai indeks H’ berkisar antara 1,5 sampai 3,5 termasuk dalam kategori sedang (Sunarno, Suedy, & Rahardian, 2021).